Minggu, 13 Maret 2011

Kulo Nuwun


Kula Nuwun
Karya sastra puisi ini merupakan ungkapan perasaan penulis berdasarkan pengalaman pribadi sebagai guru. Ketika setiap hari bergaul dengan anak-anak yang sedang dalam masa penemuan jati diri, penulis menemukan pengalaman-pengalaman yang menarik yang sangat disayangkan kalau hanya dikenang saja.Untuk itu penulis mengabadikannya dalam kumpulan puisi ini.
Penulis menyadari bahwa puisi-puisi tersebut sangat jauh dari kriteria puisi yang baik. Namun, harapan minimal penulis dapat berbagi pengalaman pada para pembaca terkait dengan makna dan pesan yang ingin penulis sampaikan.
Dari sisi kesastraan penulis berharap adanya kritik dan saran dari pihak manapun agar pada kesempatan yang lain penulis mampu berkarya di bidang sastra khususnya puisi yang memenuhi unsur-unsur intrinsik ideal
Manfaat lain dari kumpulan puisi ini adalah sebagai media pembelajaran Bahasa Indonesia pada kompetensi dasar yang berkatan dengan membaca dan menulis puisi.
Semoga karya ini bermanfaat
                                                                                            Lereng Raung

Sinetron Indonesia antara Edukasi dan Eksploitasi

Oleh: Nurakhmad
Abstrak
Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia diperparah dengan maraknya lembaga pertelevisian yang terus bertambah dengan iming-iming acara yang menyedot konsentrasi dan bahkan menjadi sarana hiburan paling favorit karena murah dan tidak perlu harus ke luar rumah. Salah satu acara yang menyedot konsentrasi penonton adalah sinetron baik domistik maupun impor. Sinetron yang ditayangkan stasiun televisi memang banyak yang bermutu dan menonjolkan tema edukatif. Namun juga tidak sedikit sinetron yang dikemas dengan harapan mampu mendongkrak rating penonton dan bahkan menafikan fungsi edukatif. Sisi bisnis tentu saja menjadi pertimbangan yang dominan. Kalu sudah begini sikap kritis dan apresiatif pemirsa perlu di bangun. Komitmen idealisme dan integritas yang tinggi terhadap tata nilai dan norma kehidupan berbangsa dan bernegara harus dipertahankan dan dijunjung tinggi. Jati diri bangsa jangan dirusak sendiri oleh segelintir orang yang demi finansial tega mengeksploitasi sisi-sisi minor kehidupan masyarakat demi keuntungan sesaat.
Kata kunci: SINETRON, EKSPLOITASI, EDUKASI.

PENDAHULUAN
Dahulu, dunia ini ini sangat luas dan banyak tempat yang sulit dijangkau. Tetapi berkat kecanggihan IPTEK, tidak ada lagi sesuatu yang sudah ada di dunia ini yang tidak terjangkau. Bukan hanya yang bersifat fisik namun dunia maya dapat diakses melalui situs-situs internet dan website. Itulah kemajuan di bidang Informasi dan Telekomunikasi ( I T ) yang sudah merambah ke seluruh penjuru dunia dengan memanfaatkan teknologi satelit komunikasi.
Perangkat IT juga berkembang demikian pesatnya, mulai dari TV, Telepon mobil (HP), Komputer dengan fasilitas hardware dan shoftware yang laju perkembangannya seperti anak panah yang sedang melesat dari busurnya. Salah satu perangkat IT yang paling memasyarakat adalah televisi. Hampir dipastikan setiap rumah ada televisinya. Durasi pemakaian hampir sama dengan durasi jaga penghuni rumah.
Media televisi merupakan media yang efektif dalam bidang IT. Informasi yang disampaikan dalam bentuk komunikasi searah. Tentunya semua sependapat dalam hal ini. Namun, sebagai masyarakat pemirsa, adakah hak penolakan atas mata acara, waktu, teknik , materi, dan pelaku penayangan. Misalnya, penayangan sinetron yang memiliki rating tinggi jastru pada saat sholat atau jam-jam belajar; atau sinetron yang tema dan amanatnya tidak sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat pada umumnya; dan sejumlah kekurangan tayangan di TV yang memiliki dampak negatif bagi kehidupan masyarakat.
Dalam makalah ini akan disajikan tentang sinetron Indonesia menurut sudut pandang pemirsa, bagaimana dalam menyikapi sinetron-sinetron tersebut dari sisi pendidikan kepada masyarakat pemirsa dan sisi bisnis pertelevisian yang secara sengaja atau tidak telah mengeksploitasi nilai-nilai kehidupan, serta segala bentuk penderitaan dan keterbelakangan masyarakat secara fisik maupun psikologis menjadi bahan baku pembuatan skenario sinetron tanpa memperhatikan dampaknya bagi masyarakat pemirsa.
Tentunya masyarakat pemirsa harus memiliki sikap kritis dalam menyikapi sinetron domestik maupun mancanegara. Sikap tersebut sangat penting karena dampak dari sinetron tersebut dapat mengubah pola pikir, sikap dan tindakan serta pilar-pilar nilai budaya bangsa yang agamis dan ber- BHINEKA TUNGGAL IKA.
Makalah ini masih jauh dari sempurna, masukan kritik dan saran untuk perbaikan dari mereka yang peduli adalah informasi yang tak ternilai bagi kami. Harapan terakhir terbentuknya pola sikap, pola pikir, dan pola tindak yang logis, kritis dan apresiatif terhadap sinetron Indonesia yang dapat dinikmati dalam tayangan pertelevisian di Indonesia.
BAGIAN INTI
Potret Sinetron Indonesia
Sinetron adalah akronim dari sinema elektronik. Yaitu drama yang disajikan melalui media elektronik televisi. Ada pula yang menyebut film layar kaca. Pengertian drama sebenarnya termasuk karya sastra berupa teks atau naskah atau skenario yang diperankan atau dipanggungkan. Dalam memerankan drama dapat berupa panggung, film, sinetron.
Pada dekade tujuh puluh dan delapan puluhan kita mengenal hiburan drama melalui film layar lebar atau bioskop. Kita mengenal bintang-bintang film, sutradara-sutradara terkenal langganan peraih oskar sebagai simbol prestasi di bidang perfilman Indonesia. Sejumlah nama sutradara terkenal seperti, Nyak Abbas Akup, Arifin C.Noer, Sukarno, M. Noer, Putu Mijaya, Eros Djarot serta sejumlah bintang film seperti Sopan Sofyan, Widyawati, Nurul Arifin, WD Moechtar, Deddy Miswar, Deddy Petet, Christin Hakim, Rano Karno serta sejumlah nama lain yang barang kali nama-nama mereka masih melekat di hati penggemarnya saat itu sampai sekarang.
Akan tetapi saat ini, semenjak dekade sembilan puluhan, sejalan dengan perkembangan pertelevisian yang tidak lagi didominasi oleh TVRI, sajian film layar lebar mulai ditinggalkan dan beralih pada televisi yang lebih dikenal dengan istilah sinetron.
Jika seseorang ingin menyaksikan film layar lebar seseorang harus pergi ke gedung bioskop dengan membeli tiket yang harganya tidak setiap orang mampu membelinya, maka dengan sinetron seseorang yang ingin menyaksikan sajian drama cukap memutar televisi di rumahnya atau di rumah tetangga, bahkan bisa berganti channel kapanpun mereka suka, tanpa harus pergi ke gedung bioskop dan merogoh saku untuk membeli tiket.
Lebih hebatnya lagi, rupanya pihak manajemen pertelevisian membaca peluang ini sebagai tambang emas bisnis entertainmen dengan pangsa pasar lebih dari 200 juta penduduk Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Stasiun televisi berlomba merebut pangsa pasar ini dengan sajian-sajian acara dan hiburan yang menarik seperti hiburan, sosial, politik, ekonomi, budaya dan bahkan agama serta ritualnya dijadikan barang komodite, untuk media menggaet para pengusaha produk jasa dan produk barang konsumtif memasangkan iklannya di televisi yang mereka kelola.
Dari sisi bisnis dan profit, hal tersebut syah-syah saja. Pola bisnis yang mereka jalankan sudah barang tentu mengikuti aturan dan prosedur yang sejalan dengan undang-undang dan peraturan pemerintah yang berlaku. Namun dalam hal ini yang perlu diwaspadai adalah masyarakat pemirsa yang jumlahnya lebih dari 200 juta jiwa. Yang sebagian besar menyaksikan tayangan televisi setiap harinya. Mereka memiliki karakteristik dan tingkat kemampuan yang berbeda-beda sesuai dengan lingkungan tempat mereka tinggal serta tingkat pendidikan dan strata sosial dan ekonomi yang berbeda pula. Masyarakat pemirsa memang majemuk.
Ada kecenderungan masyarakat saat ini lebih menyukai sesuatu yang instan.Misalnya, seseorang yang sedang kena demam dan sakit kepala, ingin sembuh saat itu juga sekejap setelah ia meminum obat. Para pelajar ingin lulus ujian dengan nilai bagus tanpa harus belajar keras. Mereka melakukan demonstrasi ketia ternyata pengawas ujian terlalu ketat dalam mengawasi pelaksanaan Ujian Nasional, menolak pelaksanaan Ujian Nasional, melakukan perusakan karena tidak lulus atau tidak naik kelas. Perilaku-perilaku agresif yang mengarah pada anarkhisme cenderung lebih menonjol dari pada sikap santun dan instropektif. Contoh lainnya adalah para pelajar yang memandang sekolah hanya sebagai trend, karena sangat tidak pantas jika usia sekolah akan tetapi tidak bersekolah. Tetapi apa yang terjadi, mereka tidak memiliki peralatan dan sumber belajar yang memadai untuk kepentingan sekolahnya. Akan tetapi, assesoris anak sekolah lengkap. Mereka bersekolah membawa motor, HP dengan tipe terkini mereka miliki. Waktu di luar sekolah tidak mereka gunakan untuk belajar, tetapi untuk kegiatan yang kadang-kadang tidak perlu.
Jika kita memiliki sikap peduli, pertanyaan kritis yang perlu kita lontarkan adalah Apakah sikap instan masyarakat ini akibat terlalu banyak menonton iklan di televisi? Apakah mereka meniru para pelaku sinetron remaja di televisi? Ataukah suasana sekolah yang membosankan karena gurunya kurang profesional dalam melaksanakan tugasnya? Serta sejumlah pertanyaan terserah dari sudut pandang mana kita memandang. Yang jelas, kepedulian terhadap mereka perlu kita tingkatkan.
Sesuai dengan topik bahasan, tulisan ini membatasi masalah pada pertanyaan yang pertama dan kedua yaitu: Apakah sikap instan masyarakat ini akibat terlalu banyak menonton iklan di televisi? Apakah mereka meniru para pelaku sinetron remaja di televisi?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut alangkah baiknya jika saya berikan beberapa contoh sajian di televisi. Misalnya, tayangan iklan. Bintang iklan pada umumnya dipilih tokoh-tokoh yang secara fisik memiliki kelebihan. Materi iklan pada umumnya adalah benda-benda konsumtif, skenario, bahasa dan naskah iklan cenderung instan dan tentunya akan berpengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat pemirsa.
Setiap orang tidak ingin hidupnya mengalami kesusahan. Yang mereka inginkan dan selalu mereka saksikan pada iklan di televisi adalah kehidupan yang senang. Jika sakit setelah diobati dalam sekejap pasti sembuh. Jika mengalami kesulitan belajar dengan minum vitamin, minum susu produk pabrikan dalam sekejab dengan serta merta menjadi cerdas dan juara kelas. Jika menggunakan pasta gigi sepanjang bulu sikat gigi, kelihatannya sederhana dan sepele. Akan tetapi, secara tidak disadari menanamkan sikap hidup yang boros. Iklan produk makanan, camilan, selalu menmpilkan jenis makanan produk pabrikan. Anak kecil tentunya lebih memilih membeli makanan tersebut dari pada makanan dari ubi atau singkong yang jelas-jelas tanpa efek samping dan harganya murah.
Temuan-temuan contoh di atas, tentunya belum lengkap, namun cukup memberi gambaran tentang efek sosial dan efek psikologis bagi pemirsa televisi, terutama pada anak-anak dan remaja yang sedang mencari jati diri kehidupannya.
Membahas masalah sinetron, sudah semestinya kita menganalisis unsur intrisik sinetron tersebut yang meliputi tema cerita, amanat, penokohan, konflik, alur, latar, dialog/bahasa yang membangun karya sastra drama tersebut.
Sinetron yang ditayangkan di televisi memang banyak yang memiliki garapan yang berkualitas, misalnya , Kiamat Sudah Dekat, yang dibintangi Dedy Miswar. Ada tokoh kecil Kipli dan Sapro. Sinetron ini digarap dengan penuh adegan-adegan dan alur yang membuat pemirsa tertawa. Akan tetapi, pesan moral dan religi sangat kental dalam sinetron ini.
Sinetron Si Entong, yang menceritakan kehidupan santri-santri kecil murid ustadz yang dibintangi Adi Bing Slamet. Sinetron ini juga tergolong drama komedi, namun pesan moral dan religi sangat bagus untuk anak-anak. Meskipun banyak adegan-adegan yang tidak masuk akal dan terkesan mengada-ada karena sulit ditemukan dalam kehidupan nyata.
Sinetron remaja yang ditayangkan oleh RCTI seperti, Intan, Cindy, Soleha, Cahaya tyergolong sinetron yang mempunyai kualitas penggarapan yang bagus ditilik dari unsur-unsur instrinsik drama. Pesan moral dari sinetron-sinetron ini angat bagus.
Rasanya memang kurang adil jika kita menilai keunggulan sinetron dari unsur tema dan amanat saja karena unsur-unsur yang lain memang tidak kalah pentingnya. Unsur-unsur itu adalah bahan baku yang memang wajib adanya. Akan tetapi sesuai dengan topik bahasan di atas, bahwa yang akan tercatat pada hati pemirsa adalah pesan moral dari sinetron tersebut. Pesan moral akan memberikan kontribusi bagi perkembangan kepribadian seseorang mencaopai kedewasaan.
Terkadang kita temui juga sinetron yang kurang baik untuk ditayangkan atau tidak layak tayang. Sebagai contoh sinetron anak-anak yang ceritanya diangkat dari cerita-cerita daerah, Jawa misalnya. Seorang anak yatim yang hidupnya mengalami kesusahan dan penderitaan karena disia-siakan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Pada puncak penderitaan tiba-tiba ada keajaiban-keajaiban yang dapat membebaskan anak tersebut dari segala penderitaan. Kedatangan bidadari yang membawa azimat, atau benda-benda yang dapat dimintai pertolongan, kedatangan Jin yang baik, sehingga dengan serta merta dapat mengatasi penderitaan tersebut dalam waktu sekejab.
Dari sisi pesan moral ada baiknya misalnya ketabahan dalam menjalani penderitaan hidup, kesabaran, kepatuhan, kedisiplinan dan sebagainya. Akan tetapi, alur cerita yang ada yang tidak wajar. Terjadi perubahan frontal dari hidup menderita ke hidup yang penuh kebahagiaan karena mendapatkan mu’jizat, bukan dari upaya sang tokoh berusaha sendiri melepaskan diri dari tirani yang diciptakan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya itu. Contoh lain, seorang pendekar yang selalu kalah, tiba-tiba menjadi demikian perkasa dan tidak terkalahkan karena memiliki senjata ampuh pemberian dari pihak tertentu. Apabila senjata andalan tersebut hilang maka pendekar tersebut tidak akan bisa berbuat banyak. Efek negatif secara psikologis bagi pemirsa dari cerita sinetron smacam ini adalah kemalasan dan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin.
Seharusnya disajikan cerita tentang orang-orang yang sukses karena dari upayanya sendiri dengan bekerja keras, belajar giat, mendekatkan diri pada Tuhan, ulet tidak mudah putus asa menghadapi sejumlah tantangan dan kesulitan hidup sampai berhasil dan mendapatkan apa yang diharapkan.
Memang dari alur cerita tidak ada keajaiban-keajaiban yang spektakuler. Akan tetapi, pesan moral cerita dikemas secara wajar dan dapat diterima akal. Kenyataan dalam keseharian sangat jarang terjadi pola-pola kehidupan yang ajaib-ajaib yang pada dasarnya akan mengotori perkembangan jiwa. Menjadikan seseorang mengharap keajaiban yang dapat mengubah hidupnya tanpa harus bekerja atau belajar yang giat. Misalnya, mimpi mendapat hadiah dari togel dengan jumlah sekian kali lipat dari modal yang dipertaruhkan. Mendapatkan nilai bagus dari hasil ujian tanpa harus belajar giat untuk menguasai materi yang diujikan karena mendapat bantuan dari orang lain ketika mengerjakan soal-soal ujian atau mendapat bocoran soal. Memperoleh gelar kesarjanaan dengan membayar sejumlah uang.
Pola-pola jalan pintas semacam ini telah menjadi rahasia umum yang tepelihara secara rapi hampir di seluruh segi kehidupan berbangsa dan bernegara . Integritas moral dan idealisme menjaga tata nilai dan norma-norma kehidupan keseharian ibarat mencari sebatang jarum dalam tumpukan jerami. Mereka yang memiliki kompetensi dan komitmen terhadap integritas moral dan idealisme seakan terlindas dan tersingkirkan.

Antara Eksploitasi dan Edukasi
Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab I Pasal 1 ayat 1 bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Selanjutnya pada ayat 2 disampaikan bahwa Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.
Dua ayat tersebut mencerminkan idealisme dalam menjujung tinggi integritas moral warga negara dan masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945. Sajian contoh kasus-kasus tayangan sinetron seperti yang dideskripsikan pada uraian di atas adalah bertentangan dengan komitmen terhadap idealisme Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Tayangan sinetron yang dapat merusak integritas moral sama saja dengan tindakan menentang dasar negara dan undang-undang . hal ini sama saja dengan tindakan makar secara halus. Dampak yang ditimbulkan adalah tererosinya moral bangsa dalam jangka yang sangat panjang dan bahkan akan menjadi kronis endemik yang sulit dicari obat penawarnya.
Beban berat justru ada pada dunia pendidikan, di satu sisi harus menjalankan amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan, di sisi lain harus menghadapi sepak terjang lembaga-lembaga bisnis yang lebih dominan mengedepankan aspek profit lembaga atau perusahaan dan sedikit sekali menjaga keutuhan dan membina moral bangsa dan negara.
Lembaga pertelevisian misalnya dengan tayangan sinetron yang kurang memiliki kualitas ditinjau dari tema yang di angkat dan amanat yang akan disampaikan pada masyarakat pemirsa. Terbukti masih jarang televisi yang menayangkan sinetron bertema pendidikan, ketekunan pelajar, keuletan guru dalam membimbing anak didiknya, kepatuhan seorang siswa pada orang tua dan guru-gurunya dan sebagainya. Tema -tema semacam ini jika digarap dengan benar akan mengangkat rating pemirsa dalam lembaga pertelevisian. Ataukah sastrawan Indonesia belum ada yang mampu menggarap tema-tema seperti itu? Atau pihak lembaga pertelevisian yang tidak mau menayangkan karena dianggap tidak memiliki nilai jual dipandang dari sisi bisnis dan profit perusahaan? Ataukah mereka menganggap bahwa moral bangsa adalah tanggung jawab dari departemen pendidikan saja. Padahal, tanggung jawab pendidikan adalah ada pada pemerintah orang tua dan masyarakat.
Dari sini tampak adanya ketimpangan dari orientasi visi dan misi pertelevisian. Aspek bisnis tentunya lebih di kedepankan dari pada aspek yang lain seperti akhlaq mulia, moral bangsa , pendidikan, serta tata nilai yang dalam kesehariannya seharusnya dijunjung tinggi-tinggi.
Ada sinetron yang mengangkat kehidupan anak sekolah, tetapi tema yang diangkat sebagian besar adalah cinta kasih remaja. Kisah cinta sepasang pemuda dengan latar kehidupan di sekolah. Hal ini sungguh memprihatinkan karena para pelajar hanya akan meniru gaya dan pola kehidupan para tokoh ketika memerankan suatu adegan dalam sinetron tersebut. Coba seandainya ada serial sinetron yang menceritakan keberhasilan seorang pelajar mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi; dan pada akhir cerita si tokoh menjadi orang yang profesional seperti sinetron Si Doel Anak Sekolahan; yang memiliki rating bagus pada waktu itu. Tentunya sinetron semacam itu akan memberikan kontribusi terhadap pembinaan moral bangsa. Pantas saja kalau Rano Karno, pemeran Si Doel mendapat kepercayaan PBB menjadi duta besar Unicef untuk Indonesia.
Kekhawatiran lainnya adalah sinetron yang cenderung mengeksploitasi sisi-sisi minor yang ada dalam kehidupan.Misalnya, ibu tiri yang kejam, penelantaran anak-anak yatim, bapak yang tidak bertanggung jawab, kesulitan ekonomi orang-orang pinggiran dan pegawai rendah, orang kaya yang sombong dan sebagainya. Kemudian sinotron tersebut ditonton sepenggal-sepenggal pada adegan-adegan di mana tokoh protagonis sedang berada dalam ketidakberdayaan menghadapi tokoh antagonis. Tentu hal ini secara psikologis akan berpengaruh pada kehidupan para pemirsa yang memiliki nasib analog dengan sang tokoh.
Atau, bisa juga cap pada ibu tiri yang kejam, anak yatim pasti terlantar, orang pinggiran pasti hidup susah akan tumbuh subur. Dengan kata lain hal ini justru akan menimbulkan diskriminasi dalam kehidupan masyarakat.

Mencerdaskan Masyarakat Pemirsa
Uraian di atas cukup memberikan gambaran bagi kita bahwa ada perbedaan orientasi antara sinetron yang ditayangkan melalui stasiun-stasiun televisi dengan keingginan para pelaku dan pemerhati pendidikan dalam menyikapi masyarakat pemirsa. Hal tersebut memang tidak dapat dipungkiri. Namun, tentunya ada solusi yang barang kali walaupun tidak dapat memberikan jawaban dengan tingkat kebenaran seratus persen, setidaknya dapat memperkecil dampak penayangan sinetron yang kurang bermutu.
Alternatif yang dapat ditawarkan antara lain mencerdaskan masyarakat agar memiliki sikap kritis dan apresiatif terhadap sinetron yang ditontonnya. Sikap kritis tersebut antara lain bahwa watak tokoh, perilaku tokoh, sikap tokoh, ucapan tokoh dalam sinetron adalah sikap pura-pura, tidak sungguh-sungguh, tetapi hanya mengikuti atau memerankan apa yang tertulis dalam skenario. Jika mereka dapat berakting dengan baik dan sempurna justru pemirsa dapat memberikan apresiasi bahwa pemeran tersebut memang seorang aktor atau aktris yang patut mendapat penghargaan sebagai seniman hebat dalam seni peran.
Mendampingi anak-anak ketika menonton televisi sangat penting. Dalam hal ini orang tua akan menjadi badan sensor apakah tayangan tersebut layak ditonton atau tidak. Orang tua juga dapat berperan meluruskan suatu adegan yang mungkin memberi dampak negatif terhadap perkembangan psikologis anak-anaknya.
Memberikan pemahaman tentang persinetronan kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Hal ini akan menambah wawasan yang lebih holistik terhadap sinetron secara utuh. Bahkan bagi mereka yang berbakat justru akan menjadi referensi dalam memperdalam bidang tersebut mencapai profesionalisme.
Lembaga pertelevisian hendaknya lebih banyak menayangkan sinetron yang kental dengan pesan moral dan menonjolkan tata nilai yang dijunjung tinggi oleh bangsa dan negara. Sinetron yang lebih membumi Indonesia, dengan mengangkat keunggulan –keunggulan global yang bersumber dari khazanah sosial budaya Indonesia. Fungsi edukasi hendaknya lebih ditonjolkan dari pada fungsi-fungsi yang lain.
Badan sensor yang memiliki kewenangan sudah seharusnya melaksanakan fungsinya secara profesional dan memegang teguh kode etik yang telah ditetapkan.
Menerbitkan buku sastra sebagai pendamping dari judul sinetron, akan memberikan alternatif kepada masyarakat dalam memberikan apresiasi terhadap suatu karya. Di samping itu, akan meningkatkan komunitas masyarakat pembaca. Sehingga hasil survey BPS tahun 1990 yang mendapati perbandingan masyarakat pemirsa TV 64 %, dan mayarakat pembaca 21 %, Padahal stasiun TV ketika itu tidak sebanyak sekarang. Dapat dibayangkan lonjakan pemirsa saat ini.
PENUTUP
Ulasan di atas barang kali amat subyektif, menurut cara pandang penulis. Namun dengan diseminarkannya tulisan ini penulis berharap ada masukan berupa kritik dan saran sebagai tambahan referensi bagi penulis dan bagi siapa saja yang peduli terhadap masa depan bangsa dan negara.
Banyuwangi, 15 Januari 2008
Nurakhmad
Penulis adalah guru Bahasa Indonesia
SMP Kosgoro Sragi

MEREBUT KEMBALI YANG HAMPIR LEPAS MENGGAPAI MIMPI INDAH DARI DUNIA PENDIDIKAN KITA

Oleh: NURAKHMAD

Jika kita mendengar kata reuni maka sejumlah persepsi muncul dalam benak kita. Sejumlah kenangan ketika di bangku sekolah akan silih berganti, episode demi episode mewarnai memori kita. Namun, apapun yang ada dalam memori kita mari kita refleksikan jauh ke depan agar memori kita itu memiliki makna bagi keunggulan bangsa dan negara kita terutama di bidang pendidikan yang konon peringkat pendidikan kita pada posisi 117 dari 150 negara di dunia.
Berbicara tentang pendidikan memang mengasyikkan. Apakah topik yang berkenaan dengan kesuksesan para pelajar dalam event olimpiade, porseni, atau perlombaan-perlombaan lainnya. Dan bahkan kasus-kasus yang mencoreng dunia pendidikan. Misalnya, tawuran, narkoba, kecurangan dalam Ujian Nasional, persuapan dalam PSB, Skandal video porno dan sebagainya. Peristiwa manis dan pahit itu selalu menghiasi media cetak maupun elektronik sepanjang tahun. Sayangnya, berita hitam pendidikan lebih sering muncul dari pada berita putih. Ketika ada kasus pelajar atau guru yang terlibat dalam skandal, gaungnya begitu luar biasa. Akan tetapi, ketika prestasi gemilang diraih oleh pelajar dan mahasiswa, maka hanya kelompok masyarakat tertentu saja yang tahu. Terkadang kita kurang adil dalam mengapresiasi sesuatu yang ada di sekitar kita. Kita lebih mudah mencaci dari pada memuji.
Gambaran di atas adalah permasalahan permukaan yang sebenarnya adalah refleksi dari sesuatu yang mendasar yang merupakan Basic Problem dari dunia pendidikan kita. Permasalahan itu seperti dikemukakan oleh Bapak Dr. Ir Indra Jati Sidi ( Mantan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah) a.l. :
• Lebih dari 900.000 guru kita belum kompeten untuk mengajar
• Masih berkutat dengan urusan ujian nasional
• Issu kesejahteraan masih mengemuka
• KKN dalam pendidikan
• Sarana dan prasarana yang masih terbatas
• Masih belajar mengelola pendidikan dalam format desentralisasi
Jika kita membahas tentang kompetensi guru, maka yang paling bertanggung jawab dalam hal ini adalah Lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan (LPTK) dan system rekruitmen penerimaan tenaga pendidik. Dari semula kita memang belum memiliki komitmen terhadap regulasi yang kita tetapkan sendiri. Kita sering melanggar aturan yang telah kita tetapkan sendiri dan dibijaksanai dengan sesuatu kepentingan insidental.
Kualitas guru-guru kita yang 900 ribu tidak kompeten untuk mengajar adalah produk LPTK dan rekrutmen antara 5 s.d. 15 tahun yang lalu. Kita terlalu longgar memberikan kesempatan, dari pada memperkecil peluang demi terjaganya mutu pendidikan. Ketika rekrutmen guru sedang digalakkan karena secara kebetulan pada kurun yang sama sedang terjadi pensiun besar-besaran. Maka pada kurun yang sama pula LPTK bermunculan seperti jamur di musim hujan. LPTK itu berebut untuk mendapatkan mahasiswa. Bukan standar kualitas yang menjadi dasar penerimaan, tetapi kuantitas yang ditonjolkan.
Dalam hal ini ternyata kita kalah dengan Negara tetangga kita Malaysia. Ada warga Negara Malaysia yang kebetulan berkunjung ke kampung karena istrinya adalah TKW asal kampung saya. Ia hanya menyelesaikan pendidikan di sekolah kejuruan setingkat SMA karena nilainya tidak memenuhi passing grade Nasional yang ditetapkan oleh negara untuk masuk di SMU dan kemudian ke Universitas. Jadi masing-masing tingkat dan program sudah memiliki standar yang telah ditetapkan secara nasional dan tidak ada pelanggaran. Jadi sangat wajar jika Malaysia dalam mutu pendidikan jauh meninggalkan saudara tuanya Indonesia.
Sekarang bandingkan dengan kondisi yang ada di kabupaten kita. Setiap tahun heboh dengan penyimpangan-penyimpangan dalam PSB. Peraturan PSB yang telah ditetapkan dapat dilanggar secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi dan tanpa ada yang mampu memberi sanksi, karena oknum secara kebetulan memiliki akses politis yang cukup strategis atas kepentingan politik tertentu.
Idealnya rekruitmen tenaga pendidik adalah para lulusan terbaik dari perguruan Tinggi dengan passing grade secara akademik maupun nonakademik yang ditetapkan secara nasional. Kemudian ditambah lagi dengan pendidikan profesi dalam kurun waktu tertentu sambil magang pada satuan pendidikan. Jadi kompetensi mereka sebagai seorang professional jelas tidak diragukan lagi. Yang perlu diingat bahwa peranan guru sangat besar bagi kelangsungan integritas suatu bangsa. Mereka adalah guru bangsa. Jadi haruslah orang-orang yang unggul yang memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Masalah kedua yang disampaikan oleh Dr. Indra Jati Sidi adalah kita masih berkutat tentang Ujian Nasional. Sudah bukan suatu rahasia jika ujian nasional kita pelaksanaannya sangat jauh dari harapan BSNP dan harapan kualitas yang sesungguhnya. Dinaikkan berapapun passing grade kelulusan ditetapkan, tetap saja tidak akan memperbaiki kualitas pendidikan di negara kita. Hal ini terjadi karena sistem pelaksanaan yang selalu diwarnai dengan kecurangan. Kecurangan-kecurangan muncul sebagai akibat kondisi psikologis dari seluruh subyek pendidikan yang tidak siap menerima kenyataan pahit dari cermin pendidikan kita. Ada beberapa contoh sebagai illustrasi seputar Ujian Nasional:
1. Seorang guru bertanya, mengapa siswanya tampak tenang-tenang saja menghadapi ujian nasional? Si siswa menjawab bahwa kawannya di sekolah faforit siap mengirimkan jawaban lewat SMS.
2. Suatu sekolah memberikan servis akomodasi yang berlebihan pada pengawas UN dari sekolah lain agar pengawasan tidak terlalu ketat.
3. Beberapa sekolah berkolaborasi menyiasati agar semua siswa dari subrayon tersebut lulus semua.
4. Di suatu sekolah banyak siswa pingsan setelah mengerjakan ujian nasional. Karena tidak dapat mengerjakan soal, dan pengawasan yang terlalu ketat.
Dari contoh-contoh kasus tersebut memberi gambaran bahwa stressing mental akibat pelaksanaan UN dialami oleh seluruh komponen pendidikan terutama bagi siswa dan mereka yang secara langsung berhadapan dengan siswa. Hal ini membuktikan bahwa kita belum memiliki tradisi budaya mutu. Kita masih mementingkan kepentingan sesaat. Seharusnya kita malu pada PTN di negeri kita sendiri. Bahwa rekruitmen mahasiswa baru sama sekali tidak memperhitungkan nilai UN.
Dalam hal ini, bukan berarti kita tidak setuju akan UN. UN harus. Karena tanpa UN kita akan kehilangan salah satu tolok ukur sebagai dasar pijakan untuk menentukan langkah-langkah yang bersangkut-paut dengan pendidikan. Bagaimana jika sistem pelaksanaannya yang diubah. Ada beberapa alternatif yang yang barangkali sangat berbeda dengan sistem pelaksanaan UN sebelumnya. Antara lain:
1. Ujian Nasional bukan untuk menentukan kelulusan peserta didik dari suatu satuan pendidikan.
2. Kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan ditentukan sendiri oleh satuan pendidikan.
3. Ujian Nasional dilaksanakan serempak oleh tim independen dan hasilnya untuk seleksi penerimaan peserta didik baru pada jenjang dan program studi berikutnya,
• Ujian Nasional SD dilaksanakan oleh SMP.
• Ujian Nasional SMP dilaksanakan oleh SMA/SMK.
• Ujian Nasional SMA/SMK dilaksanakan Oleh PTN ( seperti SPMB yang selama ini dilakukan).
Dengan begitu satuan pendidikan tidak memiliki stressing mental karena kekhawatiran yang berlebihan akibat UN.
Membicarakan kesejahteraan tenaga pendidik dan kependidikan, seperti orang berbicara tentang madu yang semua orang tahu bahwa madu manis tapi belum pernah merasakan. Mendengarkan berita tentang kenaikan gaji, sudah bukan lagi sesuatu yang luar biasa karena toh akan diikuti dengan kenaikan harga-harga kebutuhan yang juga semakin menggila. Jadi sesungguhnya kenaikan gaji hanyalah merupakan balancing sistem dari kondisi perekonomian nasional. Belum ada upaya yang sungguh-sungguh untuk memberi penghargaan profesi di negeri kita. Sebagai contoh, seorang Profesor doktor harus memberikan materi kuliah di PTS karena PTS tersebut ada upaya memberi penghargaan lebih dibandingkan dengan gaji pokoknya sebagai pendidik di PTN di mana ia bertugas. Belum lagi tenaga pendidik di tingkat pendidikan di bawahnya ( SD –SMA) yang rata-rata gajinya tidak utuh karena harus membayar angsuran kredit bank setiap bulan. Sekarang kita bandingkan dengan gaji guru di Jepang, USA, Australia, Inggris, New Zealand, yang sudah mencapai lebih dari 50 Juta per bulan. Singapura dan Malaysia pun sudah di atas 15 Juta.
Menurut Indra Jati Sidi, KKN masih meliputi sistem pendidikan kita. Kita semua tahu bagaimana KKN itu begitu kronis. Akan tetapi apa yang harus kita lakukan untuk meninggalkan KKN? Siapa yang harus melakukan, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana kita meninggalkan KKN dalam pendidikan? Rasanya belum ada media yang memfasilitasi secara intensif upaya melepaskan dunia pendidikan dari KKN. Bahkan, lembaga pendidikan yang mestinya sebagai institusi netral dan Independent sering dijadikan alat oleh para politisi untuk mewujudkan kepentingan politiknya.
Keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan menjadi isue nasional. Kurangnya sarana gedung di satuan pendidikan hampir dialami semua satuan pendidikan. Belum ada satu pun sekolah yang memiliki sarana gedung yang lengkap seperti yang dirinci dalam instrumen penilaian sekolah yang ditetapkan oleh BSNP. Belum lagi kalau kita berbicara tentang ketersediaan sumber dan alat pembelajaran. Sebagai gambaran, guru-guru dan anak didik kita masih banyak yang belum mampu menggunakan perangkat komputer untuk pembelajaran karena memang tidak adanya komputer yang mencukupi bagi pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Jika kita mau jujur, kita tertinggal 2 dekade dalam pemanfaatan Teknologi Informatika Komunikasi dalam pembelajaran. Seharusnya Komputer sudah menggantikan alat tulis konvensional seperti buku tulis, pensil, karet penghapus, mistar, dsb. Seperti ketika alat-alat tersebut menggantikan batu sabak dan grip pada tahun 1950-an. Jika tidak kita akan terus tertinggal dan menjadi pengekor atas kemajuan bangsa lain.
Berkaitan dengan otonomi daerah, maka kita masih belajar dalam pola desentralisasi pendidikan. Hal ini memang benar. Kita masih terbiasa dengan pola-pola Top down, menunggu intruksi, menunggu petunjuk, juklak, juknis dsb. Kita belum terbiasa dengan sesuatu yang muncul karena produk kecerdasan budaya lokal. Kita terbiasa dengan keseragaman. Dan terkadang gerah dengan keragaman. Dan yang paling parah kita senang berlatah-latah dengan trend sesaat yang tidak berpijak pada basik moral, basik sosial, basik budaya, basik ekonomi di sekitar kita. Kita kurang menyadari bahwa potensi ideologi, sosial budaya, ekonomi, SDM, dan SDA kita sebenarnya memiliki keunggulan yang mestinya memiliki nilai yang luar biasa. Hanya saja barang kali kita lupa memberi kemasan yang bagus dan menarik dengan kemasan internasional yaitu bahasa internasional ( Inggris, Arab, Jerman, Perancis dan Mandarin). Sebagai contoh Kabupaten Banyuwangi merupakan lumbung padi Nasional. Akan tetapi adakah sekolah di Banyuwangi yang memasang mata pelajaran bertanam padi sebagai mata pelajaran muatan lokal? Atau adakah yang menjadikan pengolahan ikan sardine sebagai mata pelajaran muatan lokal? Padahal ikan sarden hanya ada di perairan laut Banyuwangi ( Selat Bali). Berbagai peristiwa kerusuhan di berbagai kota dan daerah memberikan citra jelek kepada dunia internasional. Kita belum mampu menunjukkan wajah dengan senyum manis, belum mampu memperdengarkan tegur sapa yang lembut dan hangat kepada bangsa lain. Lalu Kapan?
Sebenarnya, segala bentuk penyimpangan( KKN) termasuk dalam dunia pendidikan karena rapuhnya basik moral ( ideologi ) budaya bangsa. Kita terlanjur mengenal kemajuan bangsa lain dan menirunya, dari pada kita membenahi budaya dan alam kita sendiri lalu memperkenalkannya kepada bangsa lain. Promosi budaya, produk-produk kreatif dari khasanah kehidupan bangsa banyak yang dipatenkan oleh negara lain. Kita belum secara bersungguh-sungguh mencari solusi radikal terhadap permasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk sistem pendidikan. Kita masih menggunakan model tambal sulam. Gali lubang tutup lubang. Sampai saat ini pun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) masih diragukan konsistensinya. Terbawa dari kebiasaan image yang keliru bahwa setiap berganti rejim maka berganti pulalah peraturan. Dan lebih parah lagi jika keputusan politik mewarnai sistem pendidikan yang seharusnya netral dan Independent.
Gambaran di atas bukanlah keluh kesah yang tiada guna. Kita harus memperbaiki kesalahan masa lalu. Mempertahankan yang sudah baik. Mewujudkan mimpi-mimpi indah tentang sistem pendidikan yang mampu membawa kemasyhuran bangsa. Barang kali hal ini dapat dimulai dari siapa saja. Bukan hanya mereka yang berprofesi sebagai pendidik dan tenaga kependidikan. Akan tetapi seluruh komponen bangsa sesuai dengan apa yang dimiliki yang berelevansi terhadap sistem pendidikan di negara kita.
Manajemen berbasis sekolah (MBS) merupakan langkah cerdas sebagai upaya merealisasikan desentralisasi pendidikan/otonomi sekolah. Sekolah diberi kesempatan untuk bekerjasama dengan seluruh stakeholder untuk melaksanakan suatu sistem pendidikan yang mengarah pada percepatan perluasan akses , peningkatan mutu serta pencitraan publik. Sebagai harapan, akhirnya bagaimana standarisasi pendidikan sebagaimana yang ditetapkan oleh BSNP yang meliputi : ( 1) Standar isi dan SKL, (2) Standar Proses, (3) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, (4) Standar Sarana dan Prasarana, ( 5) Standar Pengelolaan, ( 6) Standar Pembiayaan, dan (7) Standar Penilaian yang mendapat dukungan internal maupun eksternal dapat segera terwujud.
Sebagai penutup ulasan ini, adalah himbauan kepada para alumni sebagai stakeholder pendidikan yang saat ini mempunyai peranan dalam berbagai bidang profesi:
1. Dukungan Anda terhadap kemajuan pendidikan akan sangat bernilai terhadap kemasyhuran dan kejayaan bangsa.
2. Jika Anda memiliki peluang, berikanlah dengan ikhlas kepada anak bangsa sebagai penerus generasi bangsa ini.
3. Berikan keteladanan yang dapat memperbaiki citra bangsa di mata internasional.
“SELAMAT BERKARYA DALAM KERAGAMAN, BERSAMA DALAM PIJAKAN DAN TUJUAN”
Banyuwangi, 5 Oktober 2008

Jumat, 04 Maret 2011

Pak Guru



MATAHARI  ITU ADA DI MANA-MANA

Matahari itu
datang dan pergi
dari seluruh penjuru mata angin
ketika datang membawa harapan
ketika pergi membawa kenangan

Harapan itu tergantung
di langit ketujuh jagat raya qalbu
kenangan itu
menghiasi mimpi-mimpi
dan lamunan yang melenakan

Berharaplah………….
Bermimpilah……………
Agar kehidupan ini menjadi indah
Selamat jalan matahari
Cahayamu terpatri di sanubari.
                                                            Bukit Mondoleko, Oktober  07


HARI PERTAMA
Karya: Nurakhmad

Hari pertama Bahasa Indonesia
Bukan menulis atau membaca
Tapi menyimak  dan berbicara
Anakku
Sebuah janji pasti kita sepakati
Kali ini tak ada materi
Tapi apa yang harus kalian kuasai
bekal diri di kemudian hari
Anakku
Yang rajin agar berprestasi
Yang lalai akan merugi
Tugas pasti dilaporkan
Ulangan pasti dikerjakan
Bagiku tak ada tagihan
Anakku
Itu hutangmu 
pada dirimu
Bayarlah jangan dikurangi
Aku bukan juru tagih
Deep collector istilah yang canggih
Bayarlah sendiri hutangmu
Jika tidak nol nilaimu.


Banyuwangi, Juli 2007



KUNCI  JAWABAN  BOCOR

Karya: Nurakhmad

Pada siswa terlambat
guru bertanya,
Mengapa.......................?
Saya bangun kesiangan Bapak....
semalam acara teve bagus sekali
sayang jika ditinggalkan.
Ban motor saya kempes di jalan Bapak....
nambal ban lama juga
Selesai, setengah jalan bocor lagi.
Lama aku menunggu , Bapak....
kendaraan tak juga lewat
jalan kaki, bukan zamannya
Saya kena tilang, Bapak.....
tak pakai helm SIM pun tak ada
STNK mati pula
Pertanyaan guru yang mudah
dijawab dengan mudah dan benar
Hati siswa,  lain berkata
Guru marah memang sepantasnya
jawaban siswa selalu sama
Seperti yang kemarin
mungkin besok juga
Rupanya kunci jawaban telah bocor